Oh, Cinta Yang Muram.

Sebelum tidur, Ayumi berdoa agar Bram jatuh cinta padanya. Ia sudah jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu dengan laki laki itu. Tidak seperti biasanya, kali ini Ayumi berdoa dengan suara lantang. Ini terjadi karena ayah dan ibunya sedang pergi ke luar kota. Maka ia sendirian di rumah itu.

Ia mengucapkan keinginannya itu pada pukul sepuluh dengan suara lantang, seperti sosok protagonis di sebuah sinetron yang ia tonton beberapa waktu silam, dan diteruskan dengan suara pelan, doa agar hantu Conjuring tidak mengganggu dirinya yang sedang sendirian. Ia menonton film itu sebulan yang lalu, tapi bayangan hantu yang meloncat dari lemari masih kerap menakuti dirinya.

Malam itu, doanya didengar oleh Tuhan, karena tak ada doa yang tak didengar oleh-Nya. Tapi ada seorang lagi yang mendengar doanya. Orang itu bernama Basman, si laki laki yang budiman. Basman, sering berkeliling tiap malam dalam usahanya untuk mengatasi terror insomnia yang mengganggunya semenjak kejadian aneh di  Coffe Hills. Sambil berkeliling, ia akan bertindak layaknya  seorang juru selamat yang akan membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongan, atau yang sekiranya perlu ia tolong.

Malam itu, ia melintas di dekat jendela kamar Ayumi dan mendengar permintaannya. Maka begitulah ia kemudian memutuskan akan menolong Ayumi. Pertama tama, ia akan menunggu hingga Ayumi tidur. Kemudian ia menyelinap ke dalam kamarnya mengambil handphone Ayumi untuk mencari nomer handphone Bram. Setelah mendapatkan nomer itu, ia akan mendapatkan lokasi Bram berada dengan cara melacak sinyal dari handphone tersebut.

Ternyata rumah Bram tidak jauh. Atau tepatnya rumah kontrakan. Hanya perlu berjalan lima langkah saja. Hemat. Basman pergi ke kamar Bram dengan mengendap endap seperti ninja. Ia lalu mengintipnya.

Kamarnya kosong.

Handphone Bram nampak tergeletak di atas kasur menindih novel Misteri Kalung Setan karangan Abdullah Harahap. Suara sendu Tom Yorke menyanyikan Karma Police terdengar melalui speaker portable yang tersambung dengan  laptop warna merah maroon.  Lampu kamar mandi menyala. Basman menduga Bram mungkin ada di sana. Ia ingin mengintipnya, tapi takut kalau ternyata Bram sedang tak pakai baju dan celana, atau sedang buang hajat. Maka Basman memilih menunggu. Sembunyi di balik kegelapan di samping jendela kamar.

Oh Oh Oh ppareul saranghae.. Ah ah ah ah manhi manhihae..

Bibir Basman tak sadar ikut bernyanyi, sambil menatap bayangan wajah Taeyon yang muncul tanpa bisa ia cegah. Ini sudah lagu kelima semenjak speaker portable milik Bram mengalunkan lagu Karma Police. Bram masih belum keluar dari kamar mandi. Basman sedikit khawatir dan penasaran. Apa yang sebenarnya sedang Bram lakukan di sana? Benarkan Bram memang ada di sana. Tapi Basman tak ingin buru buru bertindak. Ia memutuskan menunggu sampai lagu Oh milik SNSD selesai.

Jinsim ini nollijido marayo…  Tto geureomyeon nan uljido molla..

Ceklek!

Terdengar suara kunci pintu kamar mandi dibuka. Basman melihatnya dengan lekat. Tangan kanannya memegang sesuatu di kantong jaketnya. Itu adalah Pistol Lope Lope. Semacam alat berbentuk pistol kecil untuk menumbuhkan cinta. Siapa pun yang tertembak pistol itu akan jatuh cinta kepada orang yang fotonya telah tersimpan dalam memory pistol itu. Sebelumnya, Basman sudah menyimpan gambar Ayumi ketika sedang tidur.

Sebenarnya, ia sendiri tidak menganjurkan untuk memakai alat itu, karena cinta harus tumbuh dengan sendirinya. Tapi ia juga penasaran dengan pistol itu. Pistol itu belum pernah ia gunakan. Terakhir kali, pistol itu nyaris ia tembakkan kepada Taeyon sewaktu berjalan menuju panggung di Meis. Tapi tak jadi, karenai ia harus pergi mendadak untuk menyelamatkan Jingga yang sedang dikejar penyihir  di Negeri Kelinci.

Sejak peristiwa itu ia belum menemukan waktu yang tepat untuk membuktikan keampuhan pistol itu. Dan, akhirnya kesempatan itu datang. Perlahan Basman mengeluarkan pistol dari kantong jaket, dan mengarahkannya ke pintu melalui jendela yang sedikit terbuka. Begitu Bram keluar, ia akan langsung menembaknya.

Ceklek!!

Tapi pintunya dikunci kembali oleh Bram. Melihat hal itu, Basman mengambil kesimpulan bahwa Bram sedang mengalami masalah dengan saluran pencernaannya yang tak bisa ia prediksi sampai kapan akan berakhir. Sambil menghela nafas, Basman memasukkan kembali pistol itu ke dalam kantong jaket. Ia memang bisa menunggu Bram hingga selesai, tapi ia tak ingin mengambil pilihan itu. Masih banyak tempat yang ingin ia kelilingi. Ia pun tak mau jika harus tetap menembakkan pistol itu ketika Bram sedang jongkok mengejan di dalam toilet. Terdengar tidak benar. Masa iya, orang lagi buang hajat ditembak.  Begitu pikirnya.

Maka Basman memutar otak bagaimana caranya agar Bram mencintai Ayumi. Dan ia tahu caranya.

Dengan kelincahan layaknya ninja, ia masuk ke dalam kamar. Mengambil buku dan pulpen yang tergeletak di atas meja kecil di samping lemari, lalu mulai menulis. Pendek saja. Ia merobek kertas yang berisi tulisan itu, dan meletakkannya di bawah handphone milik Bram. Ia menulis lagi di kertas yang lain, dan juga merobeknya. Kertas itu dimasukkan ke dalam kantong. Basman keluar dari kamar Bram. Berjalan kembali ke tempat Ayumi. Ia letakkan seobekan kertas berisi tulisan itu di meja. Kemudian Basman pergi.

Di bawah pohon kelapa di depan kontrakan Bram,  Ayumi menunduk. Pipinya bersemu merah. Bram berdiri salah tingkah di depannya. Semalam, setelah berjuang melawan perutnya yang mules, ia menemukan sobekan kertas di bawah handphone miliknya. Tertulis pesan pendek di kertas itu. AYUMI CINTA SAMA KAMU. Gara gara kertas itu juga yang membuat semalam ia nyaris tak bisa tidur. Ia tahu Ayumi. Tetangga samping kontrakan yang ia kagumi kecantikannya secara diam diam.

Maka oleh sebab itulah, pagi pagi ia sengaja mencegat Ayumi yang hendak pergi kuliah.  Disodorkan kertas itu kepada Ayumi.

“Ini Ayumi yang tulis?”

“Bukan. Ayumi juga dapat kertas seperti itu.” Ayumi menyerahkan kertas yang ia temukan di mejanya tadi pagi. BRAM CINTA SAMA KAMU. Tangan Bram gemetar ketika menerima kertas itu. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia ingin bertanya kepada Ayumi apakah yang dituliskan di kertas itu benar. Tapi lidahnya seketika jadi kelu. Salah tingkah.

“Oh ya sudah. Mungkin ada orang iseng.”

Ayumi sebenarnya kecewa mendegar kalimat itu dari Bram. Tapi, ia juga tak berani untuk berterus terang mengenai perasaannya. Ia hanya berdiri di tempat itu. Sementara Bram mundur perlahan menuju pintu kontrakan.

Dan Basman nyaris menggigit kulit pohon kelapa karena gemas melihat kelakuan Bram. Tanpa diketahui oleh Bram dan Ayumi, ada Basman yang mengawasi dari balik pohon kelapa. Tentu saja kedua orang itu tak dapat melihatnya karena Basman berkamuflase dengan sempurna. Dari tempat persembunyiannya, Basman ingin menembakkan Pistol Lope Lope kepada Bram. Tapi akhirnya ia urungkan. Ini karena ia telah melihat Bram juga punya perasaan yang sama terhadap Ayumi. Basman ingin melihat Bram berusaha sendiri untuk mendapatkan cinta gadis itu.

Basman punya rencana. Rencana ini sebenarnya berbahaya juga, dan belum tentu berhasil. Ini semua tergantung Bram nantinya. Ada dua kemungkinan yang terjadi.

Pertama.

Bram akan berlari menyelamatkan Ayumi. Ayumi berterima kasih. Saat yang tepat buat Bram untuk menyatakan cintanya, bukan? Tapi itu juga kalau Bram berani.

Kedua.

Bram akan diam ditempat. Ayumi mati kejatuhan kelapa. Iya benar. Rencana Basman ialah menjatuhkan sebutir kelapa yang ada di atas Ayumi. Basman berharap skenario pertama yang akan terjadi.

Kelapa telah ditembak. Jatuh meluncur ke bawah.

Ayumi tetap berdiri ditempatnya menatap Bram dengan tatapan penuh harap. Bram menatap mata Ayumi, kemudian membalikkan badan. Aduh celaka, umpat Basman. Bram yang telah membailkan badan tentu saja tidak melihat kelapa yang jatuh itu. Lantas siapa yang akan menolong Ayumi?

Basman jadi tegang sendiri. Kalau ia menolong atau berteriak memperingatkan Ayumi, maka penyamarannya akan terbongkar. Tapi kalau ia diam saja, Ayumi bakal celaka. Ngehe emang si Bram nih!

Sebentar lagi kelapa akan jatuh menimpa Ayumi.

Basman memutuskan menolong gadis itu.

Basman baru saja akan menyingkapkan kain kamuflasenya ketika ia melihat Ayumi salto, dan menendang kelapa itu. Kelapa meluncur menyeberang jalan. Ayumi memutar tubuhnya dan mendarat sempurna dengan kakinya. Kejadian itu berjalan dengan cepat dan senyap. Bahkan Bram  nampaknya tidak terusik dengan kejadian itu. Ia terus melangkah masuk ke dalam kontrakan.

Ayumi nampak kesal. Kemudian pergi dari tempat itu menuju kampus. Basman masih terheran heran dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sebuah pikiran melintas di kepalanya, apakah Ayumi agen juga? Tapi percayalah, jawaban itu akan diperoleh Basman beberapa bulan berikutnya ketika mereka bertemu kembali di hutan Angsana.

 

Balaraja,16-oct-13 with snsd & radiohead.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s